Ini Soal Mengisi Hidup

Januari 8, 2014 - Leave a Response

Mengapa begitu banyak orang ingin jadi presiden? Begitu tanya istriku yang kujawab, “Supaya bisa mengisi hidup.” Ya bagiku itu soal mengisi hidup seperti halnya banyak orang memilih berprofesi atau bekerja apa saja. Kalau sudah mati kan tidak ada kemauan jadi presiden atau apa saja itu. Demikian pula dengan pilihan dari berbagai macam tawaran dan peluang pada beberapa hari terakhir ini. Minggu lalu ada kawanku bermanuver mencalonkan aku pada sebuah posisi. Karena aku tahu bagaimana karakter, tabiat dan kebiasaannya, aku tak mau membuang waktu untuk berpikir jauh. Ya kuterima saja. Toh yang diungkap bisa jadi hanya jebakan, dan sangat mungkin tidak terlaksana. Toh aku tahu bagaimana selama ini mereka bersikap. Ini ada resikonya, bersikap seperti ini. Itu juga yang harus dihadapi dalam mengisi hidup. Ada resiko, sebagaimana mereka semua yang ingin jadi presiden, resiko jelas.

Intinya, apapun sikap yang diambil harus siap. Termasuk juga pada saat aku membulatkan pilihanku yang makin jelas setelah tindakan-tindakan konkrit dirumuskan. Aku dokter hewan, selama ini jarang memakai gelar profesi ini kalau tidak ada hubungannya dengan penanganan hewan atau penulisan ihwal hewan. Aku penulis, itu yang sering kukenalkan pada orang. Aku pelukis, ya memang aku juga melukis. Itu semua yang setidaknya aku punya. Aku bukan polisi atau intel yang tahu seluk beluk di bawah permukaan kisah keseharian. Aku bukan penyanyi yang pandai menantang juri di Indonesian Idol. Aku bukan pula guru sekolah negeri yang kini gajinya jutaan rupiah di atas gaji ibuku almarhumah yang guru jaman Omar Bakri. Apapun aku harus mengisi hidupku. Sedang secara pendidikan formal aku punya yaitu dokter hewan. Selama ini menulis bahkan sampai 20 tahun aku menulis untuk majalah kesehatan hewan nasional. Lalu aku bersastra. Sedang melukisku, sejak dulu aku melukis meski kuliah di fakultas kedokteran hewan.

Kalau sudah begitu apa salahku bila aku mengumumkan di sini bahwa profesiku adalah drh penulis pelukis? Jelas bukan presiden atau lurah seperti temanku. Jelas bukan tentara atau karyawan perusahaan minyak yang pernah aku tolak saat aku ditawari. Begitupun aku masih dapat mengisi hidup. Dan saat anda membaca dan tertarik dengan kata-kataku ini, apapun profesi dan pekerjaan anda, dan menjalin hubungan dengan saya, telah terjadi saling isi hidup. Soal langgeng atau tidak hubungan ini, selama ini masalah-masalah prinsip yang membuatku bersikap. Kalau dulu mungkin beda dengan masa kini, tentu merupakan perkembangan yang wajar berdasar pikiran dan bacaan yang baru. Hanya aku berpikir keras bahwa aku bukan plin-plan. Namun ini seperti proses bernapas. Pertanyaannya, dapatkah Anda membedakan apa perbedaan pikiran seperti bernapas dengan sikap plin-plan?

Apapun, pasti akan berubah, seberapa esensial perubahan itu, seberapa penting, seberapa mendasar, seberapa kuat pengaruhnya, itu berarti akan memberi makna bagi kita untuk makin mengerti sebetulnya semutu apa hidup yang kita isi. Semutu apa kita mengisi hidup.

Novel TAMAN API

Juni 5, 2011 - Leave a Response

PATUT ANDA MILIKI:

NOVEL BARU Karya Penulis Novel LANANG
Pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006

Judul : TAMAN API
Pengarang : Yonathan Rahardjo
Penerbit: Pustaka Alvabet
Editor : Errena Ike Hendraini
Genre : Novel
Cetakan : I, Mei 2011
Ukuran : 13 x 20 cm
Tebal : 216 hlm
ISBN : 978-602-9193-01-5
Harga : Rp. 42.500,-

=================

Dapat diperoleh di:
* Toko Buku Gramedia
– Jakarta: Mall Pondok Indah, Plaza Bintaro, Kelapa Gading Mall, Plaza Semanggi, Pejaten, Artha Gading, Gandaria, Grand Indonesia, Mall of Indonesia, Matraman, Melawai (Blok M)
– Depok: Margonda
– Bandung: Merdeka, Paris Van Java, Bandung Supermall, Istana Plaza, Bandung Festival
– Tasikmalaya: Gramedia Tasikmalaya
– Cirebon: Gramedia Cirebon
– Semarang: Pandanaran, Java Supermall, Pemuda
– Yogyakarta: Sudirman, Malioboro
– Solo: Slamet Riyadi, Solo Square
Harga: Rp 42.500,-

* Penerbit Pustaka Alvabet, Jl. SMA 14 No. 10 RT/RW. 010/09, Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, 13610.
Telp : 021 – 800 6458, Fax : 021 – 800 6458, www.alvabet.co.id

* Toko Dewi Sri, Jl. Raya Plaosan 61 Babat, Lamongan 62271
Telp : 0322 457383, HP : 085852985854
Harga : Rp. 42.500,- + ongkos kirim

=================

SINOPSIS

Kaum waria mendapat stigma negatif nyaris di semua lingkungan masyarakat. Anggapan sebagai patologi sosial, perusak moral, pencemar kesehatan, dan menyalahi kodrat Tuhan membuat kaum waria terpinggirkan dan terisolasi. Walhasil, kehidupan mereka pun tak banyak diketahui khalayak.

Taman Api menggambarkan sisi-sisi tersembunyi kehidupan waria yang demikian kompleks. Dengan pendekatan kritis, novel ini tak hanya menyuguhkan “abnormalitas” kehidupan waria dari beragam segi, tapi juga menguak praktik-praktik picik dan ilegal yang menempatkan kaum waria sebagai obyek penderita: misi rahasia berkedok agama untuk melenyapkan waria melalui bisnis gelap bedah kelamin berikut segenap teknologi turutannya. Bagaimanakah praktik picik itu berlangsung dan siapakah pihak-pihak yang terlibat di dalamnya?

Dengan gaya penulisan yang khas dipadu pendekatan investigatif dan konspiratif, rahasia-rahasia yang menyembul dari novel ini ihwal sisi-sisi kabur kehidupan waria dengan segudang problematikanya akan membuat Anda terperangah tiada terkira.

ENDORSEMENT

“Novel ini penting untuk membongkar berbagai kemungkinan sisi patologis dari bentuk-bentuk kesalehan religius yang kerap naif, munafik dan berbahaya.”

—Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto
Guru Besar Filsafat Universitas Parahyangan

“Dengan gaya filmis-jurnalistik, Yonathan … berhasil mengguncang kenyamanan pastoral pembaca, dengan menyuguhkan detail peristiwa operasi kelamin sebagai kekayaan sekaligus keunikan novel ini. Selamat!”

—Arie MP Tamba
Sastrawan, Redaktur Budaya Jurnal Nasional

“… bisa menjadi pintu masuk untuk membuka ‘Kotak Pandora’ kisi-kisi hidup yang sering tertutup oleh tabir etika dan moral.”

— Edy A. Effendi
Penyair dan Journalist

“… Sungguh suatu novel yang fantastis dan sangat menarik untuk diapresiasi lebih jauh.”

— Mansur Ga’ga, M.A.
Dosen Ilmu-Ilmu Sastra

“Novel ini mengangkat persoalan yang jarang disentuh dalam sastra Indonesia, yakni tentang dunia waria dan kaum dokter urban dengan segala konfliknya yang dikaitkan dengan fenomena pemaksaan klaim kebenaran oleh kelompok tertentu dengan menistakan kelompok lain. Percobaan yang berani dan sangat menarik.”

—Anton Kurnia
Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010

“Kisah waria dengan berbagai problem sosialnya lebih sering dijadikan lelucon, jarang yang mengisahkan bagaimana sesungguhnya ’ketegangan’ perubahan orientasi seksual serta ’ketegangan’ perubahan tubuh dan fungsinya. Dalam novel ini, Yonathan menyuguhkan sebuah kisah yang mewakili keingintahuan publik tentang apa yang ada di balik kehidupan mereka….”

—Cok Sawitri
Pemenang Anugerah Dharmawangsa 2010 untuk Prosa

“Novel yang patut disimak. Perpaduan problematika sosial dan kesehatan seperti HIV/AIDS dan kelainan genetik, diramu secara menarik dengan pendekatan seni dan ilmiah. Kritis sekaligus bermanfaat memberikan pendidikan bagi masyarakat.”

—Dr. Hari Basuki Notobroto, dr., M.Kes.
Departemen Biostatistika dan Kependudukan FKM Universitas Airlangga

“Imaginasi penulis buku ini saya pikir termasuk ajaib. Ia berbicara banyak hal, menceritakan banyak hal, yang sebenarnya bukan dunianya. Dan roh penulis masuk pada dunia yang tidak diakrabinya setiap hari. Tentang issue silikon, kekerasan pada Waria secara mental, operasi kelamin, sampai issue munculnya orang orang yang kontra dengan Waria dengan dalil agama. Saya harap buku ini menjadi satu dari sekian referensi dari penokohan Waria di beberapa tulisan sejenis …”

— Merlyn Sopjan
Penulis buku Jangan Lihat Kelaminku dan Perempuan Tanpa V

“Dalam novel Taman Api kita yang waria atau kenal atau dekat dengan kawan-kawan waria akan mengenali dalam fiksi suatu dunia kehidupan yang sayangnya dalam kenyataannya pun masih penuh kekerasan dan diskriminasi hanya karena perbedaan ekspresi dan identitas gender. Kita sambut dengan besar hati terbitnya novel ini, yang merupakan satu lagi langkah maju menuju suatu dunia di mana perbedaan tidak akan lagi menjadi dasar kekerasan dan diskriminasi.”

— Dédé Oetomo
Ketua Dewan Pengurus, GAYa NUSANTARA

“Lewat novel ini, kita makin dicelikkan up and down kisah galang gulung waria di negeri ini. Ada thriller, ada god’s spy yang bergemeretak hendak menujah keberadaan waria, sidik medik dan juga futuristik. Dengan alur tarik-ulur yang dentang debar, rasanya penulis berhasil memanggungkan teater kompleksitas rumpun “kelamin ketiga” ini.”

— Soffa Ihsan
Penulis

“… Setelah novel “Lanang” meraih penghargaan di Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006, saya berharap penulis yang pernah mengenyam studi dokter hewan ini akan lebih jauh mengungkap berbagai ulah dan perilaku medis di Indonesia, bahkan di dunia. Bukan menyoal hal normatif, tapi berbicara tentang realitas sosial yang ada. Kali ini, Yonathan, lewat “Taman Api”, menyingkap fenomena kaum waria yang orang awam hanya paham di bagian permukaannya saja. Sebagaimana novel, setelah penulisnya menyibak, …”

— Sihar Ramses Simatupang
Sastrawan, Pemenang Hadiah Sastra Metropoli D’Asia Khatulistiwa 2009

“Konspirasi dalam novel ini merupakan realita bisnis yang ada dalam kehidupan, penderitaan manusia diacak-acak dan dicari kelemahannya sehingga mau dibujuk untuk mengikuti keinginan para konspirator; kelainan fisik, psikis kekuatan ilmu ilmiah kedokteran-farmasi dibalut keuntungan mengesampingkan etika dan kepatutan digunakan sebagai tameng bahkan kepercayaan pun dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan itu; suatu hal yang menjijikkan yang perlu diketahui bersama!”

— Drh. Suli Teruli Sitepu
Wakil Sekretaris Jenderal PB PDHI
(Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia)
periode 2006-2010

“… Taman Api menggedor-gedor kejujuran akal sehat dan hati sanubari publik pembaca, mungkinkah rezim berkuasa dan negara tidak berperan bahkan tidak tahu-menahu sindikat konspirasi mafia humanika itu? …”

— Toga Tambunan
Penyair, Salah Seorang Pendiri Paguyuban Kebudayaan Rakyat Indonesia (PAKRI)

BIODATA PENULIS

Yonathan Rahardjo, lahir di Bojonegoro, adalah pengarang novel Lanang (2008), salah satu Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006. Ia merupakan satu dari 15 penulis Indonesia yang terpilih mengikuti UWRF (Ubud Writers & Readers Festival) 2009 di Bali. Karya-karyanya yang lain: Avian Influenza: Pencegahan dan Pengendaliannya (2004), Antologi Puisi: Jawaban Kekacauan (2004), Kedaulatan Pangan (2009). Sejak 1983, puisi, cerpen, esai, opini, dan tulisan jurnalistiknya diterbitkan di berbagai buku dan media massa. Dalam buku 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia (2010), namanya tercatat sebagai salah satu dari 100 Profil Dokter Hewan Berprestasi. Pada pasal Dokter Hewan Berprestasi di Bidang Lain, nama Drh. Yonathan Rahardjo tercatat setelah nama Drh. Taufiq Ismail (Penyair Angkatan 66), Drh. Asrul Sani (Seniman Pelopor Angkatan 45), dan Drh. Marah Rusli (Pengarang Novel Siti Nurbaya).

TENTANG REKAYASA GENETIKA

Maret 5, 2011 - Leave a Response

Jurnal Nasional, Minggu 22 Juni 2008

TENTANG REKAYASA GENETIKA
oleh: Dwi Fitria

KISAH ABSURD SEEKOR BABI

Maret 5, 2011 - Leave a Response

Ruang Baca Koran Tempo, Edisi 52, Juli 2008

KISAH ABSURD SEEKOR BABI
oleh: Efri Ritonga

Lukisan MAHKOTA DURI

Februari 16, 2011 - Leave a Response

Mahkota Duri

Cat minyak di atas kanvas
Ukuran: 50 x 60 cm
Tahun pembuatan: 1994
Riwayat Koleksi:
1994-2011 : Rakidjoantoro, Jakarta
2011-… : Mery Chandra, Cirebon

Novel LANANG

Oktober 17, 2008 - 3 Tanggapan

DATA BUKU:

Judul : LANANG
Pengarang : Yonathan Rahardjo
Penerbit: Pustaka Alvabet
Kategori serial : AlvabetSastra
Jenis: Novel
Editor : A. Fathoni
Cetakan : I, Mei 2008
Ukuran : 12,5 x 20 cm
Tebal : 440 halaman
ISBN : 978-979-3064-59-8
Harga : Rp. 55.000,-

====================

L A N A N G
(Pemenang Sayembara Novel DKJ 2006)

Yonathan Rahardjo

SINOPSIS:

Doktor Dewi seorang antek korporasi asing. Berkepentingan memasok produk rekayasa genetika dari luar negeri, dia ciptakanlah hewan transgenik penyebar virus penyakit, Burung Babi Hutan. Sejak kemunculan makhluk aneh ini, area peternakan sapi perah tempat Lanang bekerja tiba-tiba terserang penyakit gaib. Ribuan sapi mati. Warga pun gempar.
Baca entri selengkapnya »

Malam Renungan Kemerdekaan Bersama DKJ

Oktober 16, 2008 - Satu Tanggapan

Malam Renungan Kemerdekaan Bersama DKJ

Koran Tempo/ Senin, 16 Agustus 2004

JAKARTA — Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyelenggarakan “Malam Renungan Kemerdekaan Indonesia” untuk menyambut dan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-59. Acara yang menjadi tradisi tahunan DKJ ini akan diadakan pada 16 Agustus 2004 di pelataran parkir Taman Ismail Marzuki dan dimulai pukul 16.30 WIB hingga pukul 02.00 WIB.
Baca entri selengkapnya »

Baca Puisi di Wapress Bulungan

Oktober 16, 2008 - 4 Tanggapan
Baca Puisi di Wapress Bulungan

oleh Can
Kompas/ Minggu, 01 Agustus 2004

PENYAIR Yonathan Rahardjo, Senin (2/8) pukul 19.30 akan membacakan puisi-puisi terbarunya di Warung Apresiasi (Wapress) Bulungan, Jakarta Selatan. Yonathan sebelumnya pernah aktif di sebuah LSM lingkungan serta menjadi wartawan di sebuah media. Penyair yang juga dokter hewan ini dikenal dengan puisi-puisi kontekstual dan sosial. Kritik-kritiknya tajam, kendati dibalut dengan bahasa yang telanjang. (*/CAN)

kirim email ke:

Profil di Asian Globe

Oktober 16, 2008 - 2 Tanggapan

Ketika Buku Mengajariku Hidup

Oktober 16, 2008 - Leave a Response

Ketika Buku Mengajariku Hidup, oleh Prawoto, Baca, Edisi Khusus Satu Tahun 2010

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.