Ini Soal Mengisi Hidup

Mengapa begitu banyak orang ingin jadi presiden? Begitu tanya istriku yang kujawab, “Supaya bisa mengisi hidup.” Ya bagiku itu soal mengisi hidup seperti halnya banyak orang memilih berprofesi atau bekerja apa saja. Kalau sudah mati kan tidak ada kemauan jadi presiden atau apa saja itu. Demikian pula dengan pilihan dari berbagai macam tawaran dan peluang pada beberapa hari terakhir ini. Minggu lalu ada kawanku bermanuver mencalonkan aku pada sebuah posisi. Karena aku tahu bagaimana karakter, tabiat dan kebiasaannya, aku tak mau membuang waktu untuk berpikir jauh. Ya kuterima saja. Toh yang diungkap bisa jadi hanya jebakan, dan sangat mungkin tidak terlaksana. Toh aku tahu bagaimana selama ini mereka bersikap. Ini ada resikonya, bersikap seperti ini. Itu juga yang harus dihadapi dalam mengisi hidup. Ada resiko, sebagaimana mereka semua yang ingin jadi presiden, resiko jelas.

Intinya, apapun sikap yang diambil harus siap. Termasuk juga pada saat aku membulatkan pilihanku yang makin jelas setelah tindakan-tindakan konkrit dirumuskan. Aku dokter hewan, selama ini jarang memakai gelar profesi ini kalau tidak ada hubungannya dengan penanganan hewan atau penulisan ihwal hewan. Aku penulis, itu yang sering kukenalkan pada orang. Aku pelukis, ya memang aku juga melukis. Itu semua yang setidaknya aku punya. Aku bukan polisi atau intel yang tahu seluk beluk di bawah permukaan kisah keseharian. Aku bukan penyanyi yang pandai menantang juri di Indonesian Idol. Aku bukan pula guru sekolah negeri yang kini gajinya jutaan rupiah di atas gaji ibuku almarhumah yang guru jaman Omar Bakri. Apapun aku harus mengisi hidupku. Sedang secara pendidikan formal aku punya yaitu dokter hewan. Selama ini menulis bahkan sampai 20 tahun aku menulis untuk majalah kesehatan hewan nasional. Lalu aku bersastra. Sedang melukisku, sejak dulu aku melukis meski kuliah di fakultas kedokteran hewan.

Kalau sudah begitu apa salahku bila aku mengumumkan di sini bahwa profesiku adalah drh penulis pelukis? Jelas bukan presiden atau lurah seperti temanku. Jelas bukan tentara atau karyawan perusahaan minyak yang pernah aku tolak saat aku ditawari. Begitupun aku masih dapat mengisi hidup. Dan saat anda membaca dan tertarik dengan kata-kataku ini, apapun profesi dan pekerjaan anda, dan menjalin hubungan dengan saya, telah terjadi saling isi hidup. Soal langgeng atau tidak hubungan ini, selama ini masalah-masalah prinsip yang membuatku bersikap. Kalau dulu mungkin beda dengan masa kini, tentu merupakan perkembangan yang wajar berdasar pikiran dan bacaan yang baru. Hanya aku berpikir keras bahwa aku bukan plin-plan. Namun ini seperti proses bernapas. Pertanyaannya, dapatkah Anda membedakan apa perbedaan pikiran seperti bernapas dengan sikap plin-plan?

Apapun, pasti akan berubah, seberapa esensial perubahan itu, seberapa penting, seberapa mendasar, seberapa kuat pengaruhnya, itu berarti akan memberi makna bagi kita untuk makin mengerti sebetulnya semutu apa hidup yang kita isi. Semutu apa kita mengisi hidup.