Riset 3

Pelukis

Keseriusan Yonathan dalam melukis tampak sejak kecil dengan suka corat-coret di apapun tempat. Kesenangan ini didukung oleh penilaian guru-guru menggambarnya yang berkesan sejak SD (Pak Mohammad Noer), SMP (Pak Loekito, Pak Kiman), SMA (Pak Hartin, Pak Sugeng, Pak Zaenal), dan kemenangan Yonathan dalam lomba-lomba lukis saat SD, SMP dan SMA, hingga diterimanya dia di Jurusan Seni Murni FSRD (Fakultas Senirupa dan Desain) ITB pada 1987 dan Fakultas Seni Rupa IKIP Surabaya 1988 (yang kedua-duanya tidak ia masuki).

Yonathan kemudian memilih jalur otodidak untuk seni lukisnya, sembari berkuliah di FKH Unair, menjadi wartawan Memorandum, dan seterusnya di berbagai bidang kerjanya. Hal ini tak lepas dari sejarah bahwa karya lukisnya pernah dimuat di Majalah Jaya Baya, Majalah Rohani Anak Akrab dengan Tuhan di mana ia menjadi ilustrator, komik Tuhan Yesus di Buletin Bethany, dan pelukis cover Majalah Infovet Jakarta.

Karya-karya Yonathan yang berukuran besar dibuat untuk backdrop dekorasi Kebaktian Natal dan Kebaktian Awal Semester di Universitas Airlangga semasa kuliah. Ia lukis gambar-gambar rohani di atas tripleks-tripleks utuh yang disambung sepanjang panggung raksasa. Juga ia lukis baliho untuk didirikan di perempatan jalan dalam kampus. Dia pun melukis poster-poster tripleks yang dipajang di dinding Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Putra Agung pada masanya.

Dalam kancah dunia seni lukis di masyarakat umum, Yonathan pernah jadi peserta bursa lukisan Dewan Kesenian Surabaya dikuratori Pelukis M. Thalib Prasodjo. Ia pernah dikontrak sebuah EO profesional untuk melukis on the spot para peserta pada Acara Customer Dunhill di Losari Magelang, dengan melibatkan Bambang Asrini Wijanarko, Kadi Prabu Suti dan Iwan Leong pada 2006.

Lukisan-lukisan Yonathan juga menjadi koleksi penggemar lukisan. Contohnya lukisan “Mahkota Duri” yang dibuatnya pada tahun 1994 dan menjadi koleksi Rakidjoantoro di Tangerang Banten pada 1994-2011, pada 2011 menjadi koleksi Mery Chandra di Cirebon Jawa Barat. Lalu sebuah lukisannya yang semula diberi judul “Duduk di SalibNya” dari cat akrilik di atas kanvas bertahun pembuatan sekitar 2005, sejak 2013 dikoleksi oleh Halim seorang kolektor dari Sentul Bogor.

Syairupa adalah Kredo Seni Panggung Yonathan, Syair dan Lukis Teatrikal, yang ditampilkan sebagai Karya Seni Mandiri Berotoritas pada berbagai pertunjukan panggung Teatrikal Baca Puisi sambil Melukis. Kemudian ia putuskan setiap karya lukisnya masuk katagori Syairupa. Tujuannya agar konsentrasinya tidak pecah menuju ke bahasa gambar, setelah ia intensif bermain di bahasa kata. Jadi gambar sendiri merupakan bahasa kata yang tersublim dalam suatu wujud rupa. Dalam hal ini tepat kata orang bahwa satu gambar bermakna seribu kata.

Iklan